Ibu Garda Terdepan Kesehatan Keluarga di Tengah Tekanan Ekonomi

Pembangunan kesehatan nasional sering dipersempit pada deretan program dan target statistik. Padahal, di balik kebijakan dan angka-angka itu, terdapat peran mendasar yang bekerja setiap hari di tingkat keluarga: ibu. Di ruang rumah tangga, ibu menjadi penentu utama kualitas gizi, perilaku hidup sehat, serta keputusan awal dalam mengakses layanan kesehatan.

Peran ini menjadi kian krusial di tengah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan agenda percepatan penurunan stunting. Negara telah mengambil langkah penting melalui intervensi gizi. Namun, keberhasilan program tersebut tidak pernah berdiri sendiri. Ia sangat ditentukan oleh kondisi keluarga, tempat ibu menjadi simpul penghubung antara kebijakan publik dan praktik keseharian.

Masalahnya, peran strategis itu dijalankan di bawah tekanan ekonomi yang kian berat. Kenaikan harga pangan dan keterbatasan daya beli memaksa banyak keluarga mengorbankan kualitas konsumsi. Dalam situasi ini, ibu berada di garis terdepan, sekaligus paling rentan. Program gizi nasional membantu, tetapi belum cukup untuk memastikan keberlanjutan pemenuhan gizi di rumah tangga.

Angka stunting yang masih bertahan di kisaran 21 persen menegaskan bahwa persoalan gizi anak tidak bisa dilepaskan dari kesehatan ibu dan ketahanan ekonomi keluarga. Stunting bukan sekadar persoalan makan, melainkan cermin dari ketimpangan akses, informasi, dan dukungan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Saya pikir, besarnya peran ibu kerap tidak sejalan dengan dukungan yang diberikan. Ibu terus ditempatkan sebagai ujung tombak kesehatan keluarga, tetapi dukungan ekonomi, layanan kesehatan, dan lingkungan sosial belum bergerak sebanding dengan tanggung jawab yang dibebankan.

Tekanan itu kian terasa ketika ibu juga dipaksa memikul peran ganda sebagai pencari nafkah. Keterlibatan ekonomi ibu sering tidak diiringi pembagian peran yang adil di dalam keluarga. Kelelahan fisik dan tekanan mental menjadi konsekuensi yang jarang masuk dalam perhitungan kebijakan, padahal berdampak langsung pada kualitas pengasuhan dan kesehatan keluarga.

Selain itu, terkait dengan program gizi seperti MBG harus melampaui pendekatan sektoral. Tanpa penguatan kesehatan ibu, edukasi gizi keluarga, dan perlindungan sosial yang nyata, beban akan terus kembali ke ibu di rumah.

Saya berpandangan bahwa menempatkan ibu sebagai garda terdepan kesehatan keluarga tidak boleh berhenti pada pengakuan simbolik. Dibutuhkan keberpihakan kebijakan yang konkret mulai dari akses pangan terjangkau, layanan kesehatan yang mudah diakses, hingga perlindungan sosial yang sensitif terhadap beban ibu.

Menguatkan ibu berarti memperkuat fondasi keluarga. Tanpa itu, ambisi membangun generasi sehat dan berdaya saing hanya akan menjadi slogan yang rapuh.

Dr. dr. Ika Dewi Subandiyah, M.Epid
(Direktur Eksekutif PUSAKAHATI)

About the Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these

No Related Post